Produk Jamu Perlu Pengakuan Internasional
Tak diragukan lagi soal kekayaan alam Indonesia dalam menyimpan tradisi pengobatan dari tumbuh-tumbuhan. Produk herbal dari tumbuh-tumbuhan ini, di Indonesia lebih dikenal dengan istilah ‘Jamu’. Sayang, produk ini masih dianggap nomor dua untuk ukuran kalangan kedokteran. Padahal, di Jerman yang tak memiliki keanekaragaman hayati seperti kita- pengobatan jamu telah masuk ke dalam kurikulum fakultas kedokteran. Dan Di Indonesia sebenarnya sudah terbukti…
Peter Proksch dari Institute of Pharmaceutical Biology Heinrich Heine University memaparkan – pasar produk obat-obatan herbal (jamu) di Jerman mencapai sekitar 800 juta dolar Amerika atau sekitar 7 triliun lebih dengan kurs 9.000. Ini tertinggi untuk ukuran Eropa. Total penjualan obat-obatan herbal di Jerman sudah sekitar 30%, sedang 70% untuk obat modern. Demikian penjelasan selama di Jakarta beberapa waktu lalu.
Tentu saja, fenomena ini tidak terlepas dari bangkitnya industri obat di Jerman maupun kalangan medis yang mulai mengembangkan pengobatan jenis ini sejak satu dekade silam. Yang tak kalah serunya, pengobatan dengan tumbuh-tumbuhan ini sudah delapan tahun masuk dalam kurikulum fakultas kedokteran di Jerman. Jadi, tak heran, bila di Jerman saat ini 44% produk herbalnya sudah diresepkan oleh dokter. Sedang sisanya digunakan untuk pengobatan sendiri.
Bila dengan dibandingkan dengan Jerman, kita tertinggal sekitar 8 tahun dalam pengembangan pengobatan tumbuh-tumbuhan (herbal) atau jamu ini.
Sedang menurut drg. Deden Soetrisna, Group Product OTC PT Indofarma, di Indonesia masih ada hambatan dalam mengkonsumsi produk herbal ini. Karena selama ini orang menganggap produk herbal sebagai jamu. Sedang jamu biasanya di pasarkan di masyarakat bawah. Sehingga ketika mulai masuk ke kelompok tinggi, ada hambatan. Karena jamu itu dianggap produk “murah”. Jadi, persepsi masyarakat yang keliru memegang andil yang cukup besar untuk tak memajukan produk ‘jamu’ ini. Banyak masyarakat kita yang tidak tahu bahwa jamu itu telah di produksi secara modern. Mereka masih menganggap jamu dengan kualitas rendah.
Dikatakan, produk jamu yang diproduksi Indofarma baru mencapai sekitar 15%. Padahal, mesin yang digunakan untuk membuat produk herbal ini berasal dari Jerman. Pabriknya pun sudah standar internasional. Bahkan paberik khusus ekstraksi Indofarma terbesar di asia Tenggara. Untuk acuannya, Indonesia mengacu ke Jerman karena ekstrak terbaik di dunia adalah di Jerman. Bahkan dapat dikatakan, sampai saat ini dokter yang sangat percaya denagn produk tumbuh-tumbuhan (herbal) adalah dokter di Jerman.
Masalah lainnya yang masih menjadi kendala dalam pengembangan produk herbal adalah kebuntuan uji klinis.
Dokter sering mempertanyakan apakah resep untuk obat herbal itu sudah mendapat pembuktian klinis. Padahal, di Jerman sendiri produk herbal tidak
selalu dengan uji klinis. Jadi, hal ini sebenarnya salah satu masalah yang kejadiannya selalu berulang bila sudah masuk untuk urusan resep dokter.
Kondisi ini tentunya perlu penanganan yang serius, mengingat obat-oabatan alami sebenarnya sudah dikenal luas, namun perlu promosi dan informasi yang luas sehingga masyarakat tak menganggapnya sebelah mata. Peran pemerintah dalam hal ini amat diperlukan.Dan, kedokteran kita seharusnya juga melirik kekayaan alam kita sebagai pengobatan yang ‘murah-meriah.” Dalam artian menguntungkan rakyat dan juga pengusahanya. Keberhasilan Jerman, yang tak memiliki “megabiodiversity” seperti kita merupakan pelajaran yang amat berharga
July 20 2009 02:58 pm | Jamu